Secuil kisah tentang Idola Saya..:)


Inilah sepenggal kisah dari idola saya..(:

Denny sumargo!!yahh,,seorang pebasket profesional yang saya idolakan.saya tertarik baca kisah ceritanya sebelum dia jadi seseorang yang dibanggakan saat ini...(:



Ini adalah sebuah biografy singkat sebuah perjalanan anak bangsa yang sedang ingin berbagi cerita tetang dunianya. Dunia yang jauh dari apa yang mereka lihat tentang seorang Denny Sumargo seorang atlit basket seperti dunianya saat ini. Tapi itu hanya sebagian dari sisi hidupnya yang orang tau, bagaimana perjalanan untuk menjadi seorang pebasket adalah misteri hidup yang pahit dan berliku.
Agnes davonar menceritakan kisah ini dalam sebuah novel Biografy berjudul Denny Sumargo: Dan saya pun bisa!!, kisah panjang yang patut menjadi pelajaran bagi siapapun bahwa dunia ini sempurna bila kita menghendaki dengan tekat yang kuat dan yakin kita BISA!!.  Karena sesungguhnya sejarah itu tercipta oleh kita sendiri dan Denny Sumargo pun bercerita tentang sejarahnya kepada anda.!!


BAGIAN 1
Namaku Denny Sumargo.
Saya lahir di Sulawesi utara tepatnya di Luwuk Bangawi sebuah kawasan utara Sulawesi yang indah nan luas dengan pemandangan lautnya yang eksotis. Terlahir dengan nama Denny Sumargo adalah pemberian ibu saya yang bermargakan Sumargo tepatnya Meiske Sumargo. Hingga saat ini hal-hal yang paling indah dalam hidup saya selalu terlukis dengan baik ketika saya bersama ibu duduk disebuah pantai sambil menikmati es kelapa yang dingin dan hangat sambil menikmati terbenamnya matahari.
Sejak kecil saya terbiasa hidup mandiri dengan kebebasan dan saya juga sangat keras kepala, sifat itu diwariskan oleh ibu saya yang berwatak keras dan pekerja keras. Ibu terlahir dari sebuah keluarga yang kaya dan berkecukupan tapi ia hanya lulusan Sekolah Dasar, sifatnya yang tomboy dan selalu membuat saudara-saudaranya berjumlah tujuh orang itu mengatakan ibu gadis barbal walau demikian ibu terampil sekali menjahit dan menyalon. Ibu saya bercita-cita menjadi seorang Polisi Wanita, cita-cita itu tidak pernah tercapai dan mungkin saja ia berpikir demikian karena terinspirasi oleh kisah pahlawanWonderwomen yang termasyur ketika ia kecil dulu kala.
Ayah saya adalah seorang angkatan laut yang jatuh cinta pada eksotika Luwuk Bangawi, ia berasal dari Padang, Sumatra barat dan bernama Nazzarudin. Tidak banyak hal yang saya ingat tetang sosok ayah saya itu, sebab sejak saya berada di dalam kandungan ibu, Mereka bercerai. Kisah cinta mereka yang indah berakhir tragis karena keduanya memiliki sifat berlawanan. Ibu yang masih berusia 20 tahun sangat berbanding terbalik dengan ayah saya yang berusia 40 saat mereka menikah. Usia yang terpaut begitu jauh tidak mengendurkan niat mereka untuk saling mencintai.
Tapi yang saya dengar, ayah saya sangat sabar dan suka menolong orang lain. Sedangkan ibu termasuk orang yang tidak mau menerima pemberian dan selalu berusaha mencari apa yang dia mau dengan kemampuannya. Ibu gadis muda yang cantik memiliki hobi bermain bulutangkis setiap berkumpul bersama teman-teman sebayanya. Di kala itu ayah saya memutuskan untuk menetap di Luwuk sembari membuka usaha penjualan barang antik yang warung lapaknya bersebelahan dengan lapangan bulutangkis milik seorang Warga keturunan.
Suatu ketika saat ayah sedang berdagang, dilihatnya gadis muda itu setiap bermain bulutangkis disekitar warungnya dan akhirnya ia jatuh cinta pada gadis berpotongan rambut pendek dan bermuka manis itu. Ayah yang jatuh cinta berusaha mencari tau tentang sosok ibu dan usahanya tidak sia-sia ketika ibu bersedia berkenalan dengannya lewat macoblang penjaga lapangan bulutangkis. Ketika itu ayah saya sudah menikah dan mempunyai empat anak hasil pernikahannya dengan tiga istri, ibu terkejut bukan main ketika ayah berkata ia sedang menghadapai proses perceraian. Karena tidak pernah terpikir olehnya berkenalan dengan duda apalagi menikahi duda.
Ternyata cinta itu memang buta, ibu yang tidak pernah berpikir akan menikahi seorang duda akhirnya bersedia juga menikah dengan ayah. Padahal perbedaan mereka sangat banyak, ibu saya adalah seorang gadis keturunan Tiong hua dan beragama Khatolik seperti penduduk Luwuk biasanya. Sedangkan ayah saya seorang muslim dan seorang pribumi tapi cinta itu membuat perbedaan itu hilang dan  mereka bersatu. Ibu yang sedang duduk di pantai setelah lelah bermain bulutangkis bersama teman-temannya kedatangan ayah secara mendadak.
“ Meiske maukah kau menikah dengan saya?” tanya ayah.
Ibu terdiam sejenak dan melihat pria ini tanpa alang-aling langsung mengajaknya menikah.
“ Saya pikir-pikir dulu..”
Ayah tertunduk lesu , ibu melihat sebuah cinta yang tulus tapi tidak langsung menerima cinta ayah. Ia melihat kesungguhan ayah yang tiada henti memberikan cintanya tanpa batas. Setiap hari ayah menanyakan hal yang sama hingga suatu ketika ibu mulai luluh dan menjawab pertanyaan ayah dengan syarat.
“ Baiklah saya akan menikah dengan kamu tapi pastikan kamu telah bercerai secara resmi.”

Ayah tersenyum lebar dan bahagia melihat ibu bersedia menikahinya. Di kala itu, ayah memang belum secara resmi bercerai dengan Istrinya tapi ia menguatkan hati ibu dan akhirnya statusnya menjadi lajang dengan surat perceraian yang ibu lihat dengan nafas turun karena keberanian ayah. Ketika keputusan pernikahan itu sudah bulat, ibu dan ayah menghadapi masalah besar ketika nenek dari pihak ibu saya menolak kedatangan ayah untuk melamar ibu.
Nenek saya sangat kolot dan masih berpikiran tentang pernikahan hanya bagi yang se-iman dan se-suku, tapi tidak dengan ibu saya yang berpandangan luas dan bebas. Diantara keempat putri yang ia lahirkan hanya ibu yang sering melawan dan bertengkar dengan nenek. Nenek sendiri bercerai dengan kakek sehingga ia mengalami sedikit gampang emosi karena kakek sangat sayang pada ibu saya. Saudara-saudara ibu yang  laki-laki berjumlah tiga orang terkejut ketika ibu membawa ayah, mereka  langsung berusaha mati-matian untuk menyadarkan ibu tentang pikirannya yang dinilai sudah rusak.
“ Astaga, Meiske. Kamu sudah gila ya?. Kamu mau menikah dengan seorang pria duda yang sudah menikah tiga kali dan parahnya dia itu berbeda agama dengan keluarga kita.” Ujar kakak laki-laki tertua itu dihadapan ibu dan ayah saya.
Nenek sepertinya sudah sangat marah ia langsung mengusir ayah saya dari rumah. Ibu menangis tak bisa berbuat apa-apa, ia mendapatkan tamparan keras dari nenek yang murka dan saudara-saudaranya berusaha memisahkan dengan membawa ibu ke kamar. Ayah yang sudah sangat jatuh cinta pada ibu tidak peduli dengan larangan nenek, ia terus berusaha menyakinkan ibu bahwa ia adalah pria yang layak menjadi suaminya.
Ibu yang keras kepala dan percaya terhadap dirinya akhirnya benar-benar nekad menikah dengan ayah. Kakek yang biasa mendukung ibu hanya memberikan dukungan dengan setengah hati, ia hanya menyarankan ibu untuk berpikir ulang. Ibu sadar pernikahannya dengan ayah akan membuat ia dimusuhi oleh semua saudara-saudaranya dan ia bertekad membuktikan kepada saudara-saudaranya pernikahan dengan ayah adalah kebenaran jalan hidupnya.

Ayah dan ibu bercerai
Masa pernikahan itu berjalan baik dan dilaksanakan disebuah rumah makan secara sederhana yang dihadiri oleh beberapa kerabat ibu dan ayah. Karena mereka berbeda agama maka pernikahan itu berjalan dua kali, pertama di Gereja sesuai agama yang dianut ibu dan di Mesjid sesuai agama ayah.  Ibu bersedih ketika pernikahannya itu tidak dihadiri oleh keluarga kandungnya sendiri, Kakek memang datang pada saat upacara di Gereja tapi itu pun dengan setengah hati. Tapi cinta yang indah itu tidak pundar walau harga dari semua itu adalah ibu kehilangan saudara-saudaranya.
Sebulan setelah pernikahan itu ibu mulai membantu ayah menjaga warung barang antiknya sedangkan ayah sering pulang untuk bertemu anak-anaknya dari lain ibu. Beban ayah sangat berat dikala itu, ia harus menanggung semua biaya hidup kakak-kakak tiri saya yang masih bersekolah. Ketika ibu sedang melayani tamu yang berkunjung ia merasa mual dan akhirnya jabang bayi berusia satu minggu itu menjadi tanda cintanya yang disambut ayah dengan bahagia.
Kebahagiaan yang indah menyambut kedatangan saya ke dunia ternyata tak seindah bayangan ibu, ibu mulai sering frustasi terhadap ayah yang sering tidak pulang ke rumah. Parahnya setiap pulang mereka selalu bertengkar hebat hingga ibu mengambil keputusan pahit yang sangat disesali oleh ayah, ia ingin bercerai dengan ayah. Ayah tidak ingin bercerai karena saat itu ia sadar saya masih di perut ibu dan ia khawatir dengan keputusan ibu.
Ntah alasan apa yang membuat ibu nekad berpisah dengan ayah, ia mengancam lebih baik ayah bercerai dengannya daripada ia kehilangan saya yang masih diperutnya.  Ayah mengalah dan mereka pun berpisah, ayah yang sangat sayang pada ibu kemudian memberikan semua harta dan rumah hasil pernikahan mereka menjadi milik ibu. Ibu saya yang naif dan gengsi menolak pemberian itu ia memutuskan untuk kabur begitu saja menginap di rumah teman bermainnya. Dan sejak itu saya tidak akan pernah tau siapa ayah saya hingga kelak saya menjadi dewasa.
Atas saran temannya, ibu pun memutuskan untuk kembali pada keluarganya. Ibu rela menahan malu dan hinaan demi saya yang masih dalam perutnya. Ia rela melakukan apapun untuk membuat saya terlahir di dunia ini walaupun ia sadar setiap pasang mata keluarga ibu melihatnya sangat hina. Bahkan secara terang-terangan saudara-saudara ibu memaki ibu tanpa mengingat tali darah yang mengikat mereka.  Puncaknya ketika ibu sudah tidak tahan ia memutuskan pindah ke Makassar untuk hidup bersama Bibi saya sembari berharap kelahirkan saya dapat melunakkan hati nenek untuk memaafkan ibu.
Tanggal 11 Oktober 1981 dengan perjuangan berat ibu melahirkan saya dengan tangis kebahagiaan. Ia langsung mendapatkan nama Denny untuk memberikan nama pada saya, setelah itu Bibi menyarankan ibu saya  lebih baik ibu kembali ke nenek karena bisa saja nenek menjadi luluh dengan kelahiran saya. Ibu yang pada saat itu tidak bekerja tidak ingin merepotkan Bibi dan akhirnya memutuskan kembali ke rumah Nenek. Harapan nenek untuk luluh sirna, ia tidak tergoda sekalipun untuk berbaikan dengan ibu walau dengan kelahiran saya.
Nenek memang memberikan uang untuk keperluan saya selama masih bayi tapi itupun sepertinya dengan terpaksa. Cacian dan makian yang begitu dalam dan melukai hati ibu tidak hanya dari nenek saya tapi dari saudara-saudara kandungnya. Terkadang ketika ibu sudah tidak tahan akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di rumah temannya, untungnya kakek saya masih bersedia memberikan uang untuk memberi susu. Ibu sadar ia tidak bisa selamanya berharap pada nenek saya, ia pun mempraktekan kemampuannya di bidang menjahit untuk mencari nafkah guna menghidupi saya.
Ia bekerja pada sebuah rumah konveksi di dekat rumah untuk menjaga jarak agar tidak terlalu jauh dari saya. Setiap jahitan yang melekat di pakaian ia menanamkan sebuah tekad untuk membuat saya menjadi orang berguna, tekadnya yang besar tidak hanya disimpan dalam hati. Bahkan ibu bekerja dua kali untuk hidup saya. Di pagi hari ia bekerja di konveksi kemudian di siang hari ia memberikan susu ASI kepada saya lalu kembali bekerja hingga sore. Setelah bekerja menjahit, ia bekerja malam di sebuah salon kencantikan sebagai tenaga bantu. Gajinya tidak besar tapi cukup untuk membuat saya tumbuh menjadi gemuk dan sehat.
Setelah melihat saya mulai bisa berjalan dan merangkak, ibu begitu bahagia namun tetap dalam keadaan tertekan oleh saudara-saudaranya.  Ayah yang mendengar kelahiran saya tidak mempunyai kesempatan untuk bertemu karena ibu tidak sudi mempertemukan kami. Ayah selalu menitipkan uang saku kepada sahabat ibu untuk diberikan sebagai uang keperluan saya, tapi ibu menolak dan malah membalikkan uang itu dengan tegas.
Saya masih ingat hal yang paling menyedihkan dalam hidup saya untuk mengenang ibu, di kala itu saat saya berusia empat tahun. Saya tertidur pulas dan ibu membangunkan saya dengan air mata berlinang yang membuat saya heran.  Dengan cepat ia mengangkat tubuh saya melewati saudara-saudaranya yang  berdiri di ruang tamu. Saya masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang mereka katakan pada ibu tapi kata-kata itu sangat hina dan kejam.
Malam yang dingin menusuk disertai hujan rintik-rintik, ibu terusir oleh saudara-saudaranya dengan sekoper baju apa adanya. Ia membopong tubuh saya yang gemuk diantara malam, saya ketakutan tapi ibu sekali lagi tidak peduli dan terus membawa saya berjalan tanpa arah dan tanpa uang sepeserpun. Kami berhenti di sebuah sudut rumah besar yang tidak kami kenal, ibu mungkin kelelahan dan terduduk dengan air mata yang terus berlinang di halaman tersebut.
“ Mama.. Denny mau pulang..!” teriak saya.
Ibu terdiam, ia menghapus air matanya lalu berkata pada saya untuk mencoba tidur. Tapi halaman rumah itu terlalu banyak nyamuk dan bau air got yang menusuk. Saya pun menangis kencang meminta untuk pulang, Ibu sepertinya sudah sangat marah dan ia menampar saya.
“ Dengar.. Mama tidak akan pernah kembali ke rumah itu, jadi kamu jangan berharap kita pulang..!” teriak ibu pada saya.
“ Tapi Denny kedinginan dan banyak nyamuk.. !”
Ibu memeluk saya lalu menutupi saya dengan sisa pakaian yang ia bawa dari kopernya. Saya merasa lebih baik dan ia berkata pada saya, kata-kata itu begitu melekat dalam ingatan saya.
“ Denny dengarkan Mama, berjanjilah pada Mama.. kelak jangan pernah membiarkan orang lain menginjak-injak harga diri kita. Walaupun kita tidak punya uang dan kelaparan tapi jangan pernah biarkan siapapun orang itu menghina kita. Mama janji pada kamu, suatu saat akan membuat kamu menjadi orang besar dan membuktikan pada siapapun bahwa Mama bisa !!”
Saya begitu terkesima dengan kalimat yang ibu saya ucapkan hingga nyaris melupakan rasa gatal gigitan nyamuk. Tapi disinilah saya melihat ketegaran dan tekad ibu saya yang besar kepada saya, saya sadar setiap air mata yang ia jatuhkan bukanlah air mata kesediahan tapi air mata penderitaan. Saya tidak pernah menyadari bahwa kata- kata ibu terasa begitu menyedihkan ketika saya menjadi dewasa dan mengingat kejadian itu.  Kami tertidur di halaman rumah itu seperti gembel saja, saya dan ibu terlihat begitu  menyedihkan tapi itulah sejarah hidup yang tak akan pernah saya lupakan.
Kami pindah ke Makassar.
Dengan berbagai bantuan teman-teman ibu, akhirnya kami bisa mendapatkan uang dan pergi ke Makassar untuk sekali lagi tinggal bersama saudara ibu, Bibi yang pernah menolongnya. Di Makassar ibu hanya sementara tinggal bersama Bibi saya mengingat sepertinya Bibi tidak pernah rela menampung kami dengan ikhlas. Untungnya kami bertemu dengan seorang sahabat kecil ibu yang bernama Tante Ana dan suaminya.  Ia adalah sahabat ibu semasa Sekolah Dasar dulu, mereka sudah menikah sejak tiga tahun lalu namun sayang tidak dikarunia seorang anak.
Ibu menumpang pada keluarga itu cukup lama terlebih kedua orang itu sangat menyukai saya, kehadiran saya dalam keluarga itu seolah mengobati kerinduan mereka terhadap seorang anak. Ibu bekerja seperti dulu menjahit disebuah rumah konveksi, ketika ia bekerja saya dijaga oleh tante Ana yang begitu mencintai dan memanjakan saya. Ibu yang mendapatkan peluang usaha dari uang yang ia kumpulkan dari hasil kerjanya di Konveksi mulai berpikir untuk berdagang baju.
Awalnya ia memberi pakaian yang ia pesan dari Jakarta kemudian dengan sekarung tas besar ia membawa pakaian-pakaian itu untuk dijajahkan di setiap rumah di sekitar Makassar.  Walaupun terasa menyedihkan dan serta kepanasan karena cuaca Makassar yang panas, ibu tidak pernah menyerah. Dalam pikirannya hanya satu ia ingin saya bisa bersekolah setahun mendatang ketika usia saya 6 tahun.  Saya terkadang hanya bisa menahan haru ketika ibu berangkat berdagang setelah mengecup kening saya dan membiarkan Tante Ana mengendong saya.
Terkadang hasil berdagangnya lancar tetapi terkadang juga tidak sama sekali, tapi tekad ibu yang kuat membuat semua dijalankan dengan ikhlas disertai jalan Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan akan memberikan jalan padanya agar bisa menyekolahkan saya, padahal saya  tidak pernah terpikir untuk sekolah dan selalu menghabiskan waktu  ikut dengan suami Tante Ana ke Pasar untuk belajar banyak hal. Tante Ana bersuamikan seorang Preman pasar yang kerjanya menagih upeti dari setiap pedagang.  Jadi saya tidak asing melihat sedikit kekerasan yang ia perlagakan kepada saya.
Suami Tante Ana pandai berkarate dan ia tanpa ragu mengajarkan saya untuk berkarate agar bisa menjaga diri saya, saya yang terinspirasi oleh kisah Superman akhirnya ikut juga dalam setiap ajaran karate yang selalu kami lakukan setiap sore di halaman rumah kami.  Saya menikmati masa-masa kebahagiaan dan kasih saya yang tidak pernah saya dapatkan dari saudara-saudara ibu dari Tante Ana dan suaminya.  Usaha ibu berjalan dengan baik dan ia memutuskan untuk membeli langsung pakaian ke Jakarta, bisa jadi dalam setiap tiga bulan ia pulang pergi kota Jakarta dan Makassar.
Ketika ibu berpergian, Suami Tante Ana yang kebetulan berkeyakinan Muslim mulai mengajarkan saya tentang agama Islam. Saya mulai mengerti sedikit tentang bagaimana Sholat dan membaca Al-Quran, masa-masa itu menjadi masa paling indah saya, mereka sudah seperti orang tua saya yang begitu tulus memberikan kasih sayangnya pada saya. Ibu saya yang semakin sibuk akhirnya malah lebih memutuskan untuk berdagang diluar Kota Makassar dan bisa dalam seminggu ia tidak pulang, tapi saya tidak cemas karena orang tua baru saya ini menjaga saya dengan baik.
Ibu yang sudah mulai memiliki sedikit tabungan mulai berpikir tentang masa depan saya, ia berpikir saya akan hidup lebih baik dengan bersekolah di Jakarta. Ketika ide itu diceritakan kepada Tante Ana dan suaminya, mereka keberatan. Mereka sudah sangat mencintai saya seperti anak kandung dan tidak rela untuk dipisahkan dengan jarak yang begitu jauhnya.  Tapi ibu yang keras kepala tetap berpikir untuk membawa saya ke Jakarta dan sejak itu terjadilah percekcokan antara ibu dan Tante Ana berserta suaminya.
Saya yang tidak mengerti apa-apa pada saat itu hanya bisa diam dan menangis melihat mereka bertengkar. Tante Ana dan suaminya yang sudah tidak rela dengan kepergiaan saya kemudian mengambil keputusan untuk membawa saya pergi tanpa sepengetahuan ibu.  Tiga bulan lamanya saya tinggal di rumah ibu dari tante Ana tanpa pernah bertemu dengan ibu saya. Ketika saya tanyakan tentang keberadaan ibu, tante Ana dan suaminya hanya berkata
“ Mama kamu sedang bekerja di Jakarta.. kamu disini sama Tante saja..” ujar Tante sembari memberikan mainan mobil untuk menghilangkan rasa kangen terhadap ibu saya.
Saya tidak sadar bahwa saya sedang diasingkan dari ibu hingga suatu ketika saat saya sedang membeli kue manisan di jalan dan menemukan ibu yang langsung memeluk saya. Dengan cepat ibu langsung menarik tangan saya menaiki angkutan umum tanpa saya ketahui saya sedang dibawa pergi dari kedua orang tua baru saya. Saya yakin mereka akan panik mencari saya tapi seingat saya ibu sudah mengirimkan pesan pada sebuah warung untuk memberitahu bahwa saya dibawa oleh ibu untuk kembali padanya. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi bertemu orang tua baru yang sangat mencintai saya itu selamanya.

 BAGIAN 2

KAMI PINDAH KE JAKARTA

Setelah mengambil saya dengan sembunyi-sembunyi, ibu langsung membawa saya ke Jakarta. Saya begitu bahagia ketika untuk pertama kalinya saya naik pesawat terbang, saya sampai melupakan tante Ana dan suaminya yang begitu baik pada saya karena saya pikir berada diatas langit dan memandang awan adalah pengalaman hebat dalam hidup saya. Ibu memeluk saya sepanjang perjalanan di dalam pesawat, saya tidak banyak bertanya dan tertidur hingga tanpa sadar ketika terbangun saya sudah ada di Jakarta.

Jakarta kota yang megah dibanding dengan kota tempat saya tinggal, saya takjub dengan gedung-gedung pencakar langit yang tidak saya temukan di kampung halaman saya ada disini. Ibu mengontrak sebuah rumah kecil disebuah perkampungan di deket daerah Kemayoran, rumah kami sangat sederhana dan hanya beralaskan papan triplex yang kondisinya sangat tidak layak. Kami tinggal di daerah kampung disekitar rawa-rawa, masyarakat disini kebanyakan adalah para pekerja buruh dan beberapa pedagang pasar atau keliling sehingga tidak heran kami adalah satu-satunya warga keturunan yang bermukim disini, buruknya rumah kami sampai-sampai kami harus menaruh ember setiap hujan karena atap rumah kami bocor.

Saya masih berusia enam tahun di kala itu, sebenarnya ibu ingin sekali memasukan saya ke sekolah taman kanak-kanak tapi ia tidak memiliki cukup uang karena pada saat itu uang kami hanya cukup untuk hidup pas-pasan. Tapi ibu tidak ingin menyerah begitu saja melihat saya yang sudah seharusnya duduk di taman kanak-kanak agar pintar. Ibu pun bertindak sebagai guru saya, ia memberikan saya sebuah buku bacaan, pensil dan penghapus sebagai alat belajar saya. Masa itu bila saya ingat, ibu sangat tegas dan tidak tanggung-tanggung akan memukul saya dengan sapu lidi bila tidak berhasil memasukkan pelajaran yang ia ajarkan ke otak saya. Hampir selama setahun saya belajar bersama ibu hingga saya pun dapat menulis dan membaca walaupun tidak masuk sekolah taman kanak-kanak.

Ibu adalah wanita gigih dan tangguh, ia tidak pernah mengeluh pada keadaan apapun. Ia selalu berjuang menyisihkan setiap keuntungan dari berdagang pakaian untuk bekal saya sekolah dasar, bisa saya bayangkan bertapa beratnya ia memikul baju dalam kalung kemudian membawanya dari satu tempat ke tempat lain tanpa pernah merasa lelah. Di pagi hari ia berangkat berjualan setelah memberikan saya makan pagi kemudian menyiapkan beberapa tugas pelajaran untuk saya kerjakan sambil menunggu dia pulang, ia mengunci rapat rumah sehingga saya tidak bisa keluar dan harus menunggu ia pulang. Sore hari ketika ia pulang berjualan, saya selalu senang menyambut ibu karena ia selalu membawa makanan yang enak karena perut saya lapar dan ibu menyadari itu. Tetapi saya juga sering cemas bila hujan besar turun dan ibu belum juga pulang, saya tak tega membayangkan ibu saya kehujanan di jalan dan tidak bisa berteduh.

hari-hari indah saya hanya pada saat ibu sudah pulang ke rumah karena ia akan memperbolehkan saya bermain di luar bersama teman-teman tetangga saya yang sering mengajak saya bermain di rawa-rawa sekitar rumah saya. Banyak hal yang bisa saya lakukan ketika bermain di sekitar permukiman saya, terutama bermain layang-layang dan menyelam di rawa rawa untuk bermain air sembari mencari ikan Cupang kesukaan saya. Pernah saya pulang terlambat dari batas waktu jam saya bermain dengan keadaan kotor karena terjatuh di rawa-rawa dan ibu sangat marah.ia menjadi semakin marah ketika saya salah mengerjakan tugas pelajaran yang ia berikan hingga Ia memukul saya dengan keras hingga saya berteriak-teriak minta ampun, saya benci ibu saat itu karena tega memukul saya.

Setelah tangisan saya mulai meredup ibu mendekat dan mengoleskan memar dan luka kaki saya dengan obat seadanya. Ia bertanya pada saya

” Sakit.. Nin ?” tanya ibu memanggilku Nin sebagai panggilan singkatnya.

saya diam dan mengangguk

” Masih mau telat pulang lagi?”

” Nggak lagi ” jawabku

” Masih mau asal-asalan mengerjakan tugas pelajaran lagi?”

Saya terdiam dan memang benar sejak saya memiliki hobi menangkap ikan cupang, saya mulai malas untuk mengerjakan tugas dari ibu dan hanya berpikir untuk cepat-cepat bermain. Ibu memeluk saya dengan hangat, saya melihat kaki saya yang penuh luka dengan sedih. Saya jadi heran untuk apa ibu merawat kaki saya setelah dia yang menyebabkan luka ini. Kemudian ibu melepas pakaian saya yang kotor dan berjalan dengan sedikit pincang, saya pun tersadar bahwa luka di kaki saya tidak sebanding dengan perjuangan ibu untuk mengajarkan saya tentang kedisplinan dan perjuangan untuk membuat saya menjadi anak yang pintar.Jika saya perhatikan kaki ibu, kakinya memiliki kulit mati dan kapalan yang banyak karena berjalan beratus-ratus Km untuk mencarikan nasi yang saya makan setiap harinya.

Setelah saya mandi lalu memakai pakaian yang bersih ibu memberikan saya makan malam dan mengatakan satu hal yang tidak akan saya lupakan dalam hidup saya.

” Untuk menjadi orang besar, kamu harus menjadi pintar dan displin. Jangan pernah kamu lupa akan tanggung jawab kamu, terlebih terhadap pekerjaan yang harus kamu kerjakan. “

Dan saya pun bertekad sejak saat itu untuk belajar dan disiplin agar bisa menjadi orang besar, ibu adalah guru terbaik dalam hidup saya. Apalagi ibu sudah mempersiapkan saya untuk duduk di sekolah dasar sebentar lagi menunggu usia saya genap tujuh tahun.

Ibu kembali ke Makassar

Saat saya mulai berumur Tujuh tahun dan siap untuk duduk di sekolah dasar, ibu memutuskan untuk kembali ke Makassar karena merasa berdagang di Makassar lebih menguntungkan ketiban di Jakarta. Tetapi dia tidak mau saya kembali ke Makassar mengingat kasus tante Ana bisa saja terulang dan menitipkan saya pada adik kandungnya yang tinggal di Jakarta. Adik ibu saya itu menikah dengan teman ibu yang kaya raya karena ibu yang menjodohkan mereka. Ia sudah memiliki anak perempuan bernama Meisy berumur 1 tahun saat saya tinggal bersama keluarga itu. Tante tidak menolak permintan ibu menampung saya mengingat jasa ibu padanya.

Tapi pernikahan tante berjalan buruk dan retak, suaminya tidak lagi tinggal bersama dia sehingga nenek pun ikut pindah ke Jakarta dan hidup bersama tante. Saya di sekolahkan di sebuah sekolah negeri pagi 01 yang tidak jauh dari rumah tante saya yang besar dan elite di kawasan Muara karang. Orang lain akan melihat aneh bila saya bersekolah di negeri tapi memiliki rumah sebesar istana dengan taman yang luas. Padahal alasan saya bersekolah disana karena ibu tidak memiliki uang untuk memberikan sekolah swasta yang baik pada saya, lagipula ibu tidak ingin dibantu oleh siapapun tentang masa depan pendidikan saya.

Kalau saya kaji hidup saya,  masa sekolah dasar saya adalah masa paling menyedihkan yang bisa saya utarakan untuk dikenang. Di sekolah saya, saya hanya segelintir berkulit putih diantara pribumi yang dominan. Saya sering menjadi bahan celaan teman-teman saya karena mata saya yang sipit dan pendiam. Saya tidak memiliki teman di kelas dan duduk di baris belakang seorang diri tanpa ada yang mau bicara dengan saya. Ketika jam istirahat sekolah, saya harus bersembunyi di kelas karena bila saya keluar saya akan dipukuli oleh teman-teman yang tidak suka pada saya. Bukan hanya dari teman-teman sekelas tapi saya juga mengalami siksaan yang berat oleh kakak-kakak kelas saya yang tidak suka pada saya. Saya hanya bisa menangis tanpa tau harus mengadu kepada siapa, karena bila saya mengadu kepada guru saya, mereka akan membuat saya lebih menderita lagi.

Nenek sering marah dan memukul saya bila saya pulang dengan keadaan kusut dengan pakaian kotor. Saya ceritakan masalah saya di sekolah dan ia hanya bilang pada saya untuk tidak mencari masalah, padahal saya tidak pernah membuat masalah dengan siapapun di sekolah saya. Saya mengerti mengapa nenek marah karena dialah yang mencuci pakaian saya setiap harinya. Tante saya tidak lebih keras dari ibu saya, ia bukan orang yang suka mengunakan pembantu untuk mengurus rumah besarnya. Saya yang dikala itu masih berusia tujuh tahun harus terbiasa untuk mencuci piring, mengepel lantai dan mengunting rumput di taman hingga bersih setiap harinya.

Pekerjaan rumah itu harus saya kerjakan bila ingin makan, belum lagi saya harus membantu tante saya menjaga Meisy yang masih kecil. Walaupun saya memiliki perkerjaan segudang beratnya tapi saya boleh berbangga hati karena selalu meraih rangking 1 di kelas saya. Ibu sangat bangga kepada saya hingga selalu mengirimkan uang sebesar 10000 rupiah dan berbagai makanan kesukaan saya setiap bulannya. Saya tidak pernah mengeluh dan membantah setiap perintah tante saya terhadap perkerjaan yang ia jatuhkan kepada saya tetapi saya tetaplah bocah berusia tujuh tahun yang sedang belajar tentang masa anak anak yang indah sehingga terkadang saya menjadi nakal.

Kenakalan saya pada saat kecil itu merupakan hal-hal yang tidak disukai oleh tante dan nenek saya. Setiap pulang sekolah saya selalu mampir ke Supermarket Muara untuk membaca komik kesukaan saya semisal Dragon ball dan Kungfu boy. Penjaga supermarket itu sering melihat saya duduk sambil membaca komik tapi tidak pernah saya membeli hingga ia mendekati saya.

” Kamu mau beli komik ini?”
” Nggak Kak, saya cuma mau numpang baca aja”
” Disini harus beli kalau mau baca.. ga boleh baca disini..” ujar penjaga wanita itu sambil merebut komik dari tangan saya.
” Tapi saya ingin baca kak?”

Dengan jengkel penjaga itu berkata  ” Minta sama mama kamu buat beliin komik ini kalau mau baca?”

Saya jawab dengan apa adanya ” Mama saya di Makassar, saya tinggal sama tante saya. Tante saya nggak mungkin mau beliin saya komik itu!”

Lalu penjaga itu pun mengusir saya keluar dari supermaket. Saya sedih tapi tidak putus asa, keesokan harinya saya kembali untuk membaca buku komik itu hingga penjaga itu bosan mengusir saya yang keras kepala. Akhirnya ia pun memaklumi dan membiarkan saya membaca tapi dengan catatan buku itu tidak rusak dan lecek. Saya memang sangat suka membaca komik dan buku-buku pendidikan hingga terkadang tanpa sadar saya jadi sering terlambat pulang kerumah. Nenek yang sudah marah akan menyambut saya dengan sapu dan tanpa ragu membuat saya merasakan sakit luar biasa akibat pukulannya hingga jerah. Tapi saya memang nakal sehingga tante saya sering marah-marah karena harus mengganti sapu baru setiap bulannya karena patah untuk menghajar saya.

Tante saya tidak ringan tangan seperti nenek saya, ia hanya akan memukul saya bila membuat Meisy menangis. Saya pernah di kunci di kamar mandi karena tidak sengaja membuat Meisy terjatuh dari kursi karena kelalaian saya menjaganya. Saya sering menangis mendapatkan cobaan yang tidak pernah saya bayangkan dan ibu tidak pernah tau apa yang terjadi dalam hidup saya, karena ia sedang sibuk mencari uang demi masa depan saya yang lebih baik di Makassar. Tante saya tidak menyukai sifat saya yang rakus saat makan karena menggangap saya seperti orang kelaparan tapi sesungguhnya saya memang sedang masa pertumbuhan sehingga ingin selalu makan dan terus makan. Karena kesal ia sering menyembuyikan makanan dari saya sambil memperingatkan saya untuk tidak sekali sekali membuka lemari es dan lemari makanan.

Terkadang saya tidak mengindahkan apa yang ia katakan dan bila malam tiba saya mencuri makanan itu lalu membawanya ke kamar saya dan menyatapnya dengan lahap. Tapi saya selalu bernasib sial dan tertangkap hingga pada akhirnya saya selalu dipukul dan di kurung di kamar mandi. Kapok terhadap pukulan yang menyakitkan saya pun berpikir hal-hal yang tidak pernah saya bayangkan, saya mulai berani mencuri makanan di Supermarket dengan menyembunyikan makanan itu dibalik baju saya,  Karena merasa aman-aman saja, akhirnya saya menjadi keseringan berada di Supermarket dan membuat beberapa petugas curiga pada saya.

Suatu malam saya kelaparan dan memasuki Supermaket untuk mencuri Snack dan coklat, saya pikir saya akan bisa mencuri dengan aman tapi saya salah. Petugas supermarket menangkap basah saya mencuri, saya hanya bisa menangis memohon ampun untuk tidak di bawa ke kantor Polisi karena ketakutan. Mereka bertanya tempat tinggal saya kemudian membawa saya pulang ke rumah tante dan nenek, bisa dibayangkan bertapa marah dan malunya nenek dan tante terhadap kelakuan saya saat itu, Masalah selesai setelah tante bersedia membayar empat kali lipat dari harga toko. Ketika petugas itu pulang saya mendapatkan ganjalan yang tak akan pernah saya lupakan selamanya, Dua sapu kayu yang baru saja dibeli tante saya patah berantakan dan itu semua karena hanya untuk memukul saya.

Sampai saat ini saya masih tidak mengerti mengapa nenek dan tante saya bersikap keras terhadap saya, Nenek dan tante menghukum saya sangat berat karena kenakalan saya sudah melampaui batas padahal kalau saja mereka tidak menyembunyikan makanan dari saya, saya tidak akan pernah berpikir untuk mencuri. Saya tidak tau apakah ibu tau tentang sikap buruk saya ini tapi saya berharap dia tidak tau karena ibu akan sangat malu punya putra pencuri seperti saya.

Saya menjadi orang yang pendiam untuk jangka waktu yang panjang, terlalu banyak hal-hal yang membuat saya merasa takut dan cengeng semasa kecil. Sikap saya di sekolah juga tidak terlalu bergaul dengan teman-teman yang lain, mereka tau saya pintar karena selalu menjadi juara pertama di kelas tapi itu bukan hal penting selain melihat saya sebagai orang yang tidak pantas bersekolah di tempat seperti itu karena mata saya yang sipit. Empat tahun masa saya bersekolah disana banyak hal yang saya pelajari tentang dunia keras dan kekuasaan tapi saya tidak pernah dendam terhadap teman-teman saya, salah saya juga yang waktu itu diam saja dan mungkin mereka pikir saya konyol.
MENJADI KENEK SUPIR ANGKOT

Nenek tampaknya semakin kesal melihat ulah saya yang masih saja sering terlambat pulang sekolah hingga suatu hari saya pulang terlampau sore dan nenek sangat marah besar kepada saya  Padahal saya tidak melakukan tindakan-tindakan yang nakal, saya hanya pergi membaca buku di Supermarket dan pernah saya katakan itu kepada nenek, kontan saja ia marah karena berpikir saya akan mencuri lagi disana.

Saya sadar saya akan habis disemprot karena pulang terlalu sore sebab saya terlalu asyik membaca komik Kungfu boy. Saat saya pulang nenek sudah menunggu di gerbang dengan senjata sejatinya sapu kayu. Belum sampai ke rumah saya sudah menangis kencang karena ketakutan dan nenek menarik saya lalu menghajar kaki saya sembari berkata

“ Anak nakal.. sudah nenek bilang jangan terlambat pulang tapi kamu masih saja membandel.. “

Saya meminta ampun tapi itu dan menangis tapi itu tidak membuatnya mengasihani saya. Akhirnya saya diseret keluar rumah dan nenek mengusir saya.

“ Pergi kamu dari rumah ini. Jangan pernah kembali.. kalau kamu berani kembali nenek akan menghajar kamu sampai kamu mati”

Saya ketakutan dan pintu gerbang rumah tante saya terkunci sehingga saya hanya bisa diam diluar gerbang. Saya menangis memohon masuk tapi nenek tidak peduli, tante saya yang dirumah juga hanya diam saja melihat saya diusir dari rumah. Akhirnya saya berjalan meninggalkan rumah besar itu. Saya masih bingung hendak kemana tapi saya hanya berjalan sesuai naruli saya untuk berjalan tanpa berhenti.

Perut saya kelaparan dan saya berjalan melihat beberapa pedagang makanan dengan perut yang terus saja berbunyi.  Saya kapok mencuri dan tidak ingin lagi melakukan itu karena nenek bilang ia tidak akan pernah mau menyelamatkan saya kalau saya mencuri lagi. Akhirnya saya tahan rasa lapar saya terus menerus hingga hari semakin malam. Saya tidak ingat jam berapa saat itu tapi keadaan jalanan sangat sepi saya mendekati tempat sampah dan mencoba mencari makanan sisa yang bisa saya makan, sialnya saya tidak menemukan makanan sedikitpun.

Saya mencoba tidur di sebuah taman milik rumah besar yang terlihat nyaman, ketika saya tidur ribuan nyamuk menyerang saya hingga saya merasa terganggu, Akhirnya saya putuskan untuk berjalan lagi walaupun mata saya sudah sangat berat. Disebuah persimpangan jalan antara Muara karang dan Pantai indah kapuk saya berhenti melihat sebuah mobil angkot yang sedang memarkir tanpa seorang pun. Saya pun berpikir untuk tidur di dalam mobil angkot itu.

Awalnya saya bisa tidur dengan nyaman tapi tiba-tiba supir angkot itu datang, ia sangat marah dan menampar pipi saya hingga saya menangis.

“ Ngapain kamu disana.. mau mencuri ya?”
“ Nggak pak. Saya cuma mau numpang tidur..!!”
“ Bohong pasti kamu mau mencuri.. saya bawa kamu ke kantor Polisi?”
“ Ampun pak.. saya benar-benar ga bermaksud mencuri, saya hanya ngatuk dan ingin tidur disini.. sumpah pak..” ujar saya sambil menangis kencang.

Bapak supir itu kemudian mengecek uang yang ada di setir dan menemukan tidak ada yang saya curi. Ia melihat saya menangis dan ketakutan, akhirnya ia ibah dan merasa bersalah karena menuduh saya mencuri. Ia mendekati saya.

“ Kenapa kamu bisa disini..?”
“ Saya diusir sama nenek saya..!”
“ Rumah kamu dimana..!”
“ Di Muara karang..!”
“ Bapak anteri pulang ya..?”
“ Nggak mau. Nenek bilang kalau saya berani pulang saya akan dibuat mati..!”

Bapak itu menghela nafas dan tidak lagi menghendaki saya untuk pulang.

“ Ya sudah kalau emang ga mau pulang, kamu tidur aja disini.. kamu sudah makan?”
“ Belum pak..saya belum makan dari sore tadi..”
“ Bapak bellin indomie mau..?”

Saya begitu gilang mendengar kata makan dan menghapus air mata saya.
“ Mau .. mau..!!” ujar saya dengan semangat

Bapak itu kemudian membelikan saya indomie goreng dengan telur ceplok, saya melahap semua dengan cepat seperti orang yang sudah tidak makan selama setahun kata bapak itu. tapi memang kenyataannya perut saya sangat lapar dan ia pun menambah semangkok mie untuk saya. Setelah saya kenyang ia membiarkan saya tidur di mobil angkot merah miliknya, sedangkan ia tidur di depan dan berkata kepada saya sebelum tidur.

“ Besok kita pikirin mau apa ya.. sekarang uda malam kamu tidur aja..!”

Saya bisa tidur nyenyak malam itu karena kenyang dan keesokannya bapak itu menawarkan saya untuk menjadi keneknya, saya pikir tidak ada salahnya, toh saya tidak punya kegiatan apapun. Dua hari lamanya saya menghilang dari rumah dan berprofesi menjadi supir angkot jurusan Pluit sampe grogol, semua orang yang duduk di angkot memperhatikan saya dengan antusias karena sangat aneh untuk seorang anak muda berkulit putih dan sipit berkerja sebagai kenek angkot terlebih usia saya yang masih bocah ingusan.

Saya tidak pernah menyesal merasakan masa-masa saya menjadi angkot karena itu adalah pekerjaan pertama saya di dunia ini. Bapak itu sangat baik and bijaksana, ia memberika hasil kerja saya setimpal dengan apa yang saya lakukan. Saya mendapatkan makan yang bisa saya sukai semau saya dan uang saku untuk membeli apa saja yang saya sukai. Tidak banyak tapi saya puas dengan hasil keringat saya disaat itu.

Saya tidak tau bagaimana nenek bisa menemukan saya setelah dua hari menghilang dari rumah, saya pikir mungkin karena beberapa tetangga saya melihat saya di jalan secara tidak sengaja. Mereka menjemput saya untuk pulang, saya takut tapi bapak itu menguatkan hati saya untuk pulang karena tempat saya bukan dimobil angkot, tempat saya adalah di bangku sekolah untuk menimbah ilmu. Saya pun kembali dan nenek tidak memukul saya, ia hanya diam dan berpikir mungkin saya hebat karena bisa hidup seorang diri dua hari lamanya tanpa uang sepeserpun.

Sekali lagi hidup saya berjalan dengan sebuah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Kerasnya hidup telah mengajarkan saya untuk semakin tegar menatap masa depan saya. Saya beruntung bertemu bapak yang baik hati yang bersedia mengajarkan saya arti bertahan hidup. Sekali lagi juga saya kehilangan orang baik yang mengajarkan saya akan kehidupan. Saya tidak pernah menyesal apa yang pernah saya lalui dalam hidup saya karena itu adalah hal hal yang membentuk saya seperti saat ini.